21 Des 2025

Siapakah Izebel Pada Wahyu Pasal 2


Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. (Wahyu 2:20)

    Latar Belakang

    Ucapan Tuhan Yesus mengenai wanita Izebel tersebut ditujukan kepada Jemaat di Tiatira, suatu kota di Asia Kecil. Kota ini bersuasana akrab, baik secara sosial maupun ekonomi. Banyak gilda (yaitu semacam perserikatan pekerja atau pengusaha sejenis pada jaman Romawi). Warga Tiatira sering melakukan perjamuan komunitas. Kepala dari gilda atau komunitas sosial lainnya biasanya merupakan tokoh penting di ritual pagan. Sehingga perjamuan mereka juga bebarengan dengan ritual pagan.

    Kuil yang terkenal di Tiatira adalah kuil Artemis, yaitu dewi kesuburan dan perburuan. Kuilnya sering menjadi pusat sosial-ekonomi, seperti mengorganisasi festival, perjamuan, dan kegiatan perdagangan.

    Karena Artemis adalah nama seorang dewi, wanita lazim menjadi tokoh penting di kuil ini, bahkan menjadi imam atau pemimpin ritual.

    Izebel Pada Perjanjian Lama

    Izebel adalah istri Ahab yaitu raja Israel (atau tepatnya, raja Israel Utara). Kisah mereka berdua dicatat cukup panjang di alkitab, dari 1 Raja-raja pasal 16 sampai dengan 2 Raja-raja pasal 9.

    Izebel hidup pada abad 9 SM. Ia berasal dari Sidon, dibesarkan dalam budaya dan agama Kanaan, yang sangat berbeda dengan tradisi Yahudi. Dari latar belakangnya ini, Izebel membawa pengaruh agama asing ke Israel, khususnya penyembahan kepada Baal dan Asera, dan berupaya memperkenalkan praktik-praktik pagan di kerajaan suaminya. Kehadirannya di istana tidak hanya sebagai ratu, tetapi juga sebagai figur yang berpengaruh dalam politik dan agama.

    Sebagai pendukung kuat penyembahan berhala, Izebel secara aktif menentang nabi-nabi Allah. Ia memburu dan mengancam para nabi yang setia kepada Tuhan, termasuk nabi Elia. Dalam kasus yang paling dikenal, ia merancang kematian Naboth, seorang petani yang menolak menjual tanahnya untuk kepentingan kerajaan, agar Ahab bisa mengambil tanah tersebut. Tindakan ini memperlihatkan Izebel sebagai figur yang licik, manipulatif, dan rela menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan.

    Selain pengaruh religius dan politik, Izebel juga menjadi simbol dari penyimpangan moral dan spiritual di Israel Utara. Ia tidak hanya membawa praktik agama asing, tetapi juga mendorong kompromi hukum dan nilai-nilai yang ada, sehingga menimbulkan konflik antara penguasa kerajaan dan umat yang setia kepada Tuhan. Sikapnya yang dominan dalam urusan istana dan agama membuatnya menjadi tokoh kontroversial dan berpengaruh.

    Akhir hidup Izebel digambarkan tragis dalam kitab 2 Raja-Raja. Ia diusir dari istana dan akhirnya dilempar dari jendela, kemudian tubuhnya dimakan anjing sesuai nubuat nabi Elia. Kisahnya menjadi peringatan tentang akibat dari kesewenang-wenangan, penyimpangan moral, dan penindasan, yang bisa berdampak luas terhadap masyarakat dan sejarah kerajaan.

    Pandangan Gereja Awal

    Saat ini kita mungkin melihat wanita Izebel sebagai sosok simbolik, dan bukan nyata. Tetapi Firman Tuhan adalah pedang bermata dua, yang bisa menebas ke masa kini maupun ke kondisi nyata saat itu di Tiatira.

    Wanita Izebel seharusnya ada pada zaman itu di Tiatira, meskipun mungkin namanya bukan Izebel. Tetapi dengan menyebut Izebel, asosiasi menjadi sangat jelas, sehingga jemaat Tiatira langsung mengerti maksudnya tanpa penjelasan panjang.

    Origen Adamantius (±185–253 M) adalah salah satu Bapa Gereja paling berpengaruh pada abad ke-3. Lahir di Alexandria, Mesir, Origen menjadi teolog, penafsir Alkitab, dan pemimpin sekolah katolik di kota itu. Karya-karyanya sangat memengaruhi teologi Kristen awal. Meskipun beberapa ajarannya kontroversial dan tidak diterima saat ini, namun kita bisa mengetahui pandangan gereja awal melalui tafsirannya. Origen menafsirkan Izebel terutama secara alegoris, tetapi ia mengakui bahwa figur ini bisa merujuk pada seorang wanita nyata di jemaat Tiatira, yang mengajarkan kompromi moral dan ajaran sesat.

    Hippolytus dari Roma (±170–235 M) adalah salah satu teolog terkemuka pada abad ke-3, dikenal sebagai pemimpin oposisi terhadap beberapa ajaran yang dianggap sesat di gereja awal. Ia menulis karya-karya ekstensif tentang heresi dan tafsir Alkitab, termasuk Refutation of All Heresies dan komentar-komentar tentang Wahyu. Ia melihat Izebel sebagai representasi ajaran sesat yang nyata di jemaat Tiatira, dan ia mengakui kemungkinan bahwa figur tersebut bisa merujuk pada seorang wanita yang benar-benar hadir di jemaat, yang menggunakan otoritas rohani untuk menyesatkan jemaat melalui kompromi moral dan pengaruh budaya pagan.

    Kesimpulan

    Saat ini, kita mengerti bahwa kompromi dengan kegiatan amoral dan penyembahan berhala adalah ajaran sesat, sesuai konfirmasi kitab Wahyu.

    Jika kembali ke masa lalu di Tiatira, kondisi Tiatira mendukung munculnya wanita Izebel. Hal itu juga diakui oleh tokoh-tokoh gereja awal. Namun, karena nama nyata wanita itu kemungkinan bukan Izebel, jadi jejak penelusuran catatan sejarah tidak menemukannya.